19
Jul
08

EO anak2 pengemis, dan sebuah motivasi.

tadi malem, sekitar jam 10 lebih dikit, aku ama dedi pulang dari singosari menuju ke hq. mulai dari daerah RSU Syaiful Anwar, ada seorang bapak, pake motor Honda GL dengan nopol N 5254 BY, ngebut. bapak tsb membawa 2 anak dibonceng dibelakang. aku pikir, bapak ini gak jelas, dingin2 kaya gini, anak2 tadi itu gak pake jaket, dan pake celana pendek (cowok) dan rok pendek (cewek). umur anak2 tadi ya sekitar 7-8 tahun lah. in my mind, bapak ini kejem ke anaknya. itu aja

nah, sampe di perempatan sarinah – alun2, berenti di lampu merah, dua anak tadi itu langsung turun, berlari berhamburan ke tepi jalan. lampu udah ijo, dan bapak tersebut, langsung tancap gas ke selatan, arah kasin / sukun. aku sempat ngebut juga, untuk dapetin nopol motornya.

ada dua kemungkinan. dua anak tadi numpang ke bapak tadi ke perempatan alun2. atau, bapak tadi adalah kolektor anak2 jalanan untuk kemudian disuruh ngemis. heck. kemungkinan pertama adalah satu hal yang ga mungkin. aku pernah satu hari di tahun 2001, mencoba untuk bergaul dengan anak jalanan, dan yang aku tahu, hampis semua anak jalanan itu pasang barrier kepada orang asing. hanya dengan persuasif yang kuat, kita sebagai orang asing bagi mereka, bisa ngobrol dengan mereka. jadi ga mungkin lah, anak 2 itu numpang. yang paling mungkin adalah, bapak tsb adalah seorang EO (event organizer) pengemis.

ah, kasihan mereka, hidup dengan pendidikan dan kebiasaan seperti itu. pernah ada cerita, seorang kaya yang kayanya ga ketulungan, bikin komplek perumahan sederhana untuk diberikan cuma-cuma pada komunitas orang2 jalanan yang ber”profesi” sebagai pengemis. yang terjadi adalah, mereka menempati rumah2 tsb bberapa minggu, lalu menjual rumah2 tsb. ya, mereka menjualnya.

“buat apa kerja, nodongkan tangan di perempatan jalan aja udah dapet duit koq”. maaf, bukannya aku ga punya rasa kasian. justru rasa kasianku ini terlalu besar untuk sekedar mengkasiani pengemis. yang dibutuhkan oleh seorang pengemis adalah rasa kasian yang besar ini, bukan rasa kasian kecil berupa sumbangan materi. dalam hal ini, adalah instrumen pemerintah yang harus menyediakan semacam pelatihan dan mekanisme kontrol pada para pengemis tersebut.

jadi inget, seorang bapak yang udah tua banget. phew. salut banget gw ma dia. dia jualan roti bolu kecil, satu paket 2000rupiah, isi 3 roti. dia kalungkan kotak berisi roti2 dagangannya di dadanya, semacam kotak orang jualan onde2. dia pake trompet kecil khas orang jualan roti, yang dipencet karetnya trus bunyi. karena udah udzur banget, –keliatan dari guratan2 diwajah dan tangannya–, dia agak kesulian berjalan. dia udah ga kuat berjalan dengan mengangkat kaki, jadinya dia harus menyeret kedua kaki rapuhnya, sreet … sreet… . dengan kecepatan 5 meter permenit dia berjalan melintasi hutan MIPA UB. tergerak hatiku untuk membeli roti dagangannya. “pinten pak?” (berapa pak) … dia jawab dengan “ehhm..ehh” , sambil menunjuk tulisan “roti bolu 2000″. MasyaAllah, pengen nangis aku. beliau udah tua, berjalan susah, kesulitan ngomong juga (atau malah bisu?). keterbatasan beliau tidak menjadi halangan bagi dia untuk berusaha terus.

dia telah berusaha mengubah hidupnya, melewati keterbatasan keterbatasan yang senantiasa melekat pada dirinya. subhanallah, dia tidak mengenal kata menyerah ataupun kata2 meminta belas kasihan orang lain. Dia telah menendang dan membunuh keterbatasan itu, meretas jalan menuju sebuah hidup yang lebih berarti.

ah ! lalu apa aku ini? lalu apa kita ini? kita yang masih bisa tertawa, masih bisa berjalan, masih bisa makan, masih bisa banyak hal, atau dengan kata lain, apa sih yang tidak kita bisa? kita masih saja meluangkan waktu untuk hal2 yang tidak perlu, untuk hal2 yang tidak esensial, untuk hal hal yang benar benar tidak berguna. jangankan mendobrak keterbatasan, kita tidak pernah sampai menyentuh batas kemampuan kita. kita menikmati hidup tanpa berbuat apa2. alangkah tidak bergunanya kita. keingetan tagline blog dia “Termasuk orang-orang yang beruntungkah aku hari ini?” ….

ayo … bekerjalah, berusahalah, beribadahlah, sampai kau temukan batasmu, dan ketika batas itu sudah kita temui, tendanglah batas itu !! selagi nafas masih berhembus, selagi darah masih mengalir, selagi kaki masih bisa menendang. karena klo udah mati, terputus sudah usaha kita, terputus sudah amal kita.

post ini aneh. dari kritik, sampe sedikit analisa, lalu jadi sedikit tausiyah untuk diri sendiri. jadi bingung aku masukin post ini di kategori apa ….


0 Responses to “EO anak2 pengemis, dan sebuah motivasi.”



  1. No Comments Yet

Leave a Reply




Dikunjungi

  • 331 hits

 

July 2008
M T W T F S S
    Aug »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031